Tampilkan postingan dengan label Kuliah Peradaban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah Peradaban. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2011

Al Qur'an dan IPTEK


Sebagian orang yang rendah pengetahuan keislamannya beranggapan bahwa Al Quran adalah sekadar kumpulan cerita-cerita kuno yang tidak mempunyai manfaat yang signifikan terhadap kehidupan modern, apalagi jika dikorelasikan denga kemajuan IPTEK saat ini.

Al Quran menurut mereka cukuplah dibaca untuk sekadar mendapatka pahala bacaannya, tidak untuk digali kandungan ilmu di dalamnya. Apalagi untuk dapat menjawab permasalahan-permasalahan dunia modern dan diterapkan dalam segala aspek kehidupan, hal ini adalah sesuatu yang nonsense.

Anggapan-anggapan di atas merupakan indikasi bahwa orang tersebut tidak mau berusahan untuk membuka Al Quran dan menganalisis kandungan ayat-ayatnya. Oleh karenanya, anggapan tersebut sangat keliru dan bertolak belakang dengan semangat Al Quran itu sendiri. Bukti-bukti di bawah ini menunjukkan yang sebaliknya:
  1. Bahwa wahyu yag pertama diturunkan Allah Swt. kepada Nabi-Nya Muhammad saaw. adalah perintah untuk membaca atau belajar ( Q.S. 96: 111-5)  dan menggunakan akal, bukan perintah untuk shalat, puasa atau zikrullah.
Demikian tinggi hikmah turunnya ayat ini, menunjukkan perhatian Islam yang besar terhadap ilmu pengetahuan.

  1. Bahwa Allah Swt.  mengangkat manusia (Adam a.s) sebagai khalifah-Nya di muka bumi dan bukan para malaikat-Nya sebab adanya ilmu pengetahuan (Q.S. 2: 31-33).
Dengan kelebihan ilmu pengetahuan itu, Allah Swt. memuliakan Adam as., sehingga memerintahkan para malaikat-Nya untuk bersujud kepada Adam as..

  1. Manusia yang memiliki derajat paling tinggi di sisi Allah Swt. adalah manusia yang memiliki iman dan ilmu. (Q.S. 58:11) Mengapa? Karena iman membawa manusia kepada ketinggian di akhirat (fil akhirati hasanah), dan ilmu membawa manusia kepada ketinggian di dunia (fid dunya hasanah).
  2.  
  3. Syarat manusia yang berhak diangkat menjadi pemimpin dalam Islam ada dua hal, yaitu: ilmu yang tinggi dan fisik yang sehat (Q.S.2-247) Ini menunjukkan betapa tinggi pengahargaan Islam kepada nilai-nilai ilmu dan nilai-nilai kesehatan.
  4.  
  5. Bahkan Allah Swt.. melarang manusia untuk melakukan suatu pekerjaan atau perbuatan tanpa memiliki ilmunya. (Q.S. 17:36)
  6.  
  7. Sejarah menunjukkan bahwa padaa masa kaum Muslimin mempelajari dan melaksanakan ajaran agamanya dengan benar, maka mereka memimpin dunia dengan pakar-pakar yang menguasai dalam disiplin ilmunya masing-masing, sehingga Barat pun belajar dari mereka.

Senin, 04 Juli 2011

Bahaya Peradaban Barat Modern


Bahaya Peradaban Barat Modern

Lebih lanjut, DR. Qardhawi menjelaskan beberapa sisi lemah peradaban Barat yang harus diwaspadai oleh kaum Muslimin saat berinteraksi dan mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat.
I. Dekadensi Moral
Permisifisme (paham serba boleh) merupakan pangkal dari kerusakan moral dan akhlak umat manusia saat ini, sehingga perlu diwaspadai dan ditangkal. Kehidupan individualistis, bebas, dan tanpa batas sehingga menabrak aturan-aturan Islam, serta tidak lagi memperhatikan halal dan haram. Akibatnya, terjadi kerusakan yang belum pernah dialami sepanjang sejarah umat manusia. Berbagai masalah psikososial bermunculan seperti: Depresi, stress, drop-out, terlibat pemakaian obat terlarang dan minuman keras, kehamilan pra-nikah, kekejaman fisik, tidak betah di rumah, tidak ingin diatur, dan yang paling memprihatikan adalah timbulnya berbagai penyakit seksual (seperti: Siphilis serta HIV/AIDS[1]).
WHO memperkirakan diseluruh dunia setiap hari jumlah infeksi baru bertambah 8.500 orang, 1000 diantaranya bayi dan anak-anak. Saat ini tidak ada sebuah negara pun yang benar-benar terbebas dari HIV/AIDS. Di Indonesia menurut WHO diperkirakan pada tahun 1997 sudah mencapai 35.000-50.000 orang[2]. Sementara menurut Komisi Penanggulangan AIDS nasional dan beberapa lembaga di UI diperkirakan sudah mencapai 40.000-100.000 orang yang terinfeksi AIDS[3].
2. Keretakan Keluarga
·        No Child Double Income, yaitu suatu ajaran dari materialisme yang menolak memiliki anak berdasarkan banyak investasi yang harus dikeluarkan. Artinya, jika tidak punya anak, pendapatan dapat dinikmati sepuasnya.
·        Children without Parents/broken home, yaitu fenomena anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Akibatnya, mereka mencari perhatian dengan menghambur-hamburkan uang, narkoba, tawuran, sex bebas, dan sebagainya. Suami menuntut mantan istri dan sebaliknya. Fenomena kerusakan institusi keluarga di Barat sudah sedemikian parahnya sehingga terjadi saling tuntut antara suami istri yang bercerai (e.g: kasus Jane Seymour, Jane Fonda, Kim Bassinger, Susan dan Joane Collins, perancang busana Mary McVaden, dan bahkan diantara “suami-istri” lesbian Martina Navratilova dengan “pasangannya”).
·        Ibu Sewaan. Hal lain yang mengerikan dari peradaban Barat yang sedang “sakit parah” adalah berkembangnya lembaga yang menyewakan “rahim” untuk menampung hasil pembuahan dari pasangan yang ingin punya anak tapi “malas” mengandungnya. Menurut penelitian antara 1976-1986 ada 600 bayi yang dilahirkan melalui tabung dan wanita sewaan. Pada masa yang akan datang diperkirakan “pusat penetasan” ini semakin berkembang karena 15% pasangan suami istri Amerika tidak subur dan mandul.
·        Keluarga sejenis. Salah satu rekomendasi keputusan dari Konferensi Modern Kependudukan dan Demografi Dunia di Kairo, adalah agar negara dunia___khususnya Negara berkembang___mendorong “hak” para pasangan dari satu jenis kelamin untuk “menikah” sebagaimana hak manusia lainnya. Berkembangnya “keluarga” satu jenis kelamin ini menentang fitrah manusia yang sehat. Jika hal tersebut dilaksanakan akan mengakibatkan sakit, baik fisik (diantaranya AIDS) maupun mental (abnormal). Islam secara tegas menentang dan mengharamkan hal tersebut. (Q.S. 26: 165-166)
3. Gerakan Pembangkangan Terhadap Materialisme di Barat
·        Hippies dan Vegabond.
Akibat kehausan spiritual dan materialisme konsumtif masyarakat Barat memunculkan gerakan pemberontakan terutama dikalangan kaum muda dengan pelarian kepada minuman keras, obat-obatan terlarang dan seks. Mereka ingin menghentikan kemajuan IPTEK yang harus dibayar dengan social cost yang sangat besar dan telah mengorbankan nilai-nilai fundamental kemanusiaan.
·        Fenomena Suicide dan depressi.
Majalah Times dalam judul ‘Bunuh Diri di Kalangan Remaja AS’ menerangkan bahwa pada atahun 1985 telah terjadi peningkatan bunuh diri 60 orang dari kalangan remaja dan 60 orang dikalangan orang tua dari setiap 100 ribu orang AS.
Kriminalitas dan ketakutan.
.
Beberapa laporan tentang kondisi moralitas masyarakat Barat di AS saat ini, antara lain:[4]
a.      Empat dari sepuluh penduduk AS merasa terancam pembunuhan, pemerkosaan, dan penodongan.
b.     Lima puluh dua persen masyarakat kota merasa terancam dan mempersenjatai dirinya. Sembilan dari sepuluh masyarakat AS mengunci pintu rumahnya dengan kunci ekstra dan mengenali setiap tamu yang datang.
c.      Tujuh dari sepuluh masyarakat AS menutup jendela mobil ketika mengendarainya. Enam dari sepuluh menelpon ke rumah famili yang baru saja mengunjunginya untuk mengetahui keselamatannya. Mereka mendukung pemberian wewenang yang lebih pada polisi untuk melakukan tindakan yang lebih keras terhadap orang yang dicurigai.
d.     Bahkan, dua atau tiga orang menuntut diberlakukannya hukuman mati bagi penjahat dengan kekerasan.
4. Peringatan Ilmuwan Barat Modern
·        Alexis Carrel menyatakan dalam bukunya Man the Unknown[5], “Peradaban modern ini tidak sesuai dengan kita, karena ia dibentuk dengan tidak mengenal tabiat kita yang sebenarnya. Meskipun ia diciptakan dengan jerih payah kita, namun ia tidak cocok dengan ukuran dan kondisi kita.”
·        Renan Dupont dalam bukunya So Human an Animal menyatakan, “Setiap ilmuwan mencemaskan generasi yang lahir dalam lingkungan social yang buruk dan tak terkendali yang telah kita ciptakan sendiri.”
·        John Dewey menyatakan, “Peradaban yang membiarkan ilmu pengetahuan menghancurkan moral masyarakatnya adalah peradaban yang menghancurkan dirinya sendiri.”
·        Arnold Toynbee menyatakan, “Peradaban ini telah mengelabui mereka dan menjual nyawa mereka dengan diganti oleh bioskop dan radio. Ini adalah pemiskinan rohani yang dilukiskan Plato sebagai masyarakat Babi.”
·        Roger Geraudy dengan lebih keras menyatakan, “Mereka (barat) bekerja keras menanamkan ide “bom demografi” kepada Negara Ketiga yang tak akan sanggup dipikul oleh sumber alam dunia pada tahun 101-. PBB melaporkan bahwa 84,7% sumber alam dunia dikonsumsi oleh negara kaya yang berjumlah1/5 penduduk dunia. Dan 1,4% yang dikuasai 4/5 penduduk dunia yang miskin. Seolah-olah mereka mau berkata kepada egara-negara berkembang: Mulai sekarang kalian harus secara ketat membatasi kelahiran agar kami dapat terus merampok dan memeras sumber alam kalian.”
Rabbanaa akhrijnaa min haadzhihil qaryatizh-zhalimi ahluha



[1] Saptandari, P.MA., Remaja, AIDS dan Permasalahannya: Suatu Tinjauan Aspek Sosio Kultural. FISIP Unair. Surabaya.
[2] Duarsa, WN., AIDS dalam Ebers Papyrrus Jurnal Kedokteran FK UNTAR. Jakarta.
[3] Roesin R., Kontroversi Epidemi HIV/AIDS dalam Media Komunikasi dan Informasi Tentang Penyakit Menular Seksual HIV/AIDS - Waspada, DESEMBER 1996 (I):7-11.
[4] Qardhawi, Y., Islam Peradaban Masa Depan. Pustaka Al Kautsar. Jakarta. 1996
[5] ibid

PERADABAN BARAT MODERN DALAM TIMBANGAN ISLAM

Semangat Peradaban Barat Modern
Peradaban Barat modern saat ini jika dianalisis secara teliti akan nampak bahwa tubuhnya merupakan komponen-komponen dari berbagai keberhasilan teknologi, kemakmuran fisik, dan segala jenis kemudahan duniawi. Sarana transportasi yang demikian modern, peralatan telekomunikasi canggih, dan perkembangan teknologi modern yang hampir menyentuh segala aspek kehidupan kemanusiaan merupakn buah dari peradaban Barat yang tak dapat dipungkiri kegunaan dan manfaatnya, kecuali oleh orang-orang yang picik.
Dilain pihak, dibalik segala kemajuan dan kecanggihan teknologi tersebut, nampak berbagai kelemahan dan bahaya yang menyerang aspek spiritualisme dan kejiwaan manusia. Peningkatan penderita psikopath, stress dan depressi; kerusakan moralyang mengakibatkan berbagai penyakit sosial___seperti: Tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan pergaulan yang serba permisifistis___sehingga berakibat meningkatnya kasus kehamilan diluar nikah dan ledakan penderita AIDS. Hal ini terjadi karena jiwa peradaban modern bersumberkan pada materialisme pragmatis serta ideologi buatan manusia yang kering dari nilai-nilai transedental dan kesucian ruhiyyah.
Akar Ideologis Peradaban Barat
Peradaban Barat jika dilihat dari segi ilmiah bersumber pada filsafat rasionalisme ilmiah[1], yang mendasarkan segala sesuatu pada penelitian dan eksperimen. Walaupun perlu dicatat bahwa metode penelitian dan eksperimen merupakan metode yang ditemukan oleh para ilmuwan muslim dan berasal dari Islam[2].
Karakteristik Peradaban Barat
Prof. DR. yusuf Al Qardhawi (1995)___seorang pakar fikih dan pemikir Islam paling terkemuka di dunia saat ini___membuat analisis tentang beberapa karakteristik Pemikiran Barat Modern berdasarkan Pemikiran Islam, sebagai berikut:
I. Tidak Mengenal Allah Secara Benar
Peradaban Barat modern tidak mengenal Allah secara benar. Konsep ketuhanan mereka hanya menganggap Tuhan sebagai penguasa langit, tetapi Tuhan tidak berkuasa di bumi. Bumi adalah daerah kekuasaan manusia dan Tuhan tidak boleh ikut campur dalam urusan manusia. Mengapa? Karena manusia lebih mengetahui apa yang baik bagi dirinya daripada Tuhan dan Tuhan terlalu suci untuk ikut mengatur semua itu.
Pemahaman ini bersumber dari konsep pemikiran Aristoteles dan Plato tentang Tuhan. Menurut Aristoteles, Tuhan adalah Mahasuci dan karena ke-Mahasucian-Nya maka Tuhan tidak memikirkan segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Ia hanya disibukkan memikirkan diri-Nya. Lebih jauh dari Aristoteles, Plato___murid Aristoteles___, lebih “menyucikan” Tuhan, sehingga Tuhan menurut Plato tidak memikirkan apa-apa. Sebab, Ia terlalu suci untuk berpikir, walaupun memikirkan diri-Nya. Sungguh menyedihkan!
2. Mitos Primetheus Si Pencuri Api Suci
Dalam filsafat Yunani kuno dikenal sebuah cerita mitos tentang Primetheus si pencuri api suci. Ia seorang manusia penjaga api ilmu pengetahuan milik Tuhan (Dewa Zeus). Lalu, ia (Primetheus) mencuri api ilmu pengetahuan dan melarikan diri ke dunia. Dengan bekal ilmu pengetahuan tersebut, ia mampu mengembangkan dan membangun dunia. Tetapi, hal itu menimbulkan kemarahan Tuhan, sehingga berakhir pada « perkelahian » antara Tuhan dengan manusia yang dimenangkan oleh manusia.
Mitos sederhana ini berdampak begitu mendalam terhadap mayoritas masyarakat Barat. Dua kata kunci (keyword) dari mitos tersebut yang dapat diambil, yaitu: Konflik manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam. Sebagian besar masyarakat Barat membenci Tuhan yang digambarkan tidak rela ilmu-Nya dipelajari oleh manusia (hal ini kemudian tercermin pula pada kitab Injil tentang perkelahian manusia dengan Tuhan, ajaran Marx bahwa agama adalah candu bagi masyarakat dan puisi Nietsche yang menyatakan bahwa Tuhan telah mati).
Kata kunci yang kedua adalah konflik antara manusia dengan alam. Sebagian besar masyarkat Barat menganggap alam sebagai musuh yang harus ditaklukkan (bukan mitra manusia sebagaimana dalam pandangan Islam yang tercermin dalam Hadis-hadis Rasulullah saw., diantaranya, “gunung Uhud ini mencintai kita dan kitapun mencintainya.” “Kalau kalian berperang jangan membunuh binatang ternak, jangan menebang pohon-pohon dan membakar lading-ladang kecuali untuk keperluan makan kalian.”) Pandangan ini diimplementasikan dalam bentuk eksploitasi terhadap alam. Akibatnya, terjadi kerusakan ozon dan lingkungan, serta habisnya energi sumber daya alam di bumi.
3. Terperangkap Aliran Materialisme
Aliran materialisme menjadikan interpretasi atas segala sesuatu berdasarkan materi semata-mata. Apa yang ditangkap oleh pancaindra harus diterima. Sementara, apa yng ditangkap di luar pancaindra adalah nonsense yang tidak perlu digubris apalagi dipikirkan. Aliran materialisme ini kemudian berkembang dan menafikan segala sesuatu yang bersifat norma dan akhlak, menganggapnya sebagai kepura-puraan (dengan menyelewengkan arti kata munafiq), dan pada fase finalnya adalah mengingkari segala yang gaib.
Ajaran materialisme lalu masuk ke segala bidang. Pepatah time is money tidak lagi memperdulikan apakah uang tersebut halal atau haram. Pernikahan tidak ditujukan untuk bersama-sama melaksanakan rida Allah Swt. sekuat tenaga, tetapi mengedepankan nilai materi semata. Pendidikan lebih mengutamakan pada konsumsi akal semata dan menbiarkan kegersangan batindan ruhani.
4. Bahaya Aliran Sekulerisme
Ajaran sekulerisme berawal pada abad pertengahan. Setelah Barat belajar pengetahuan dari Islam, bermunculanlah para ilmuwan dan pakar dengan berbagai teori (yang kemudian ditentang oleh para agamawan disana) yang berbunut pada peperangan antara ilmuwan dengan agamawan. Akibatnya, terjadinya pembantaian besar-besaran terhdap para ilmuwan, dengan penyaliban dan pembakaran (termasuk yang terbunuh, diantaranya Galileo Galilei di pengadilan Roma). Karena para ilmuwan berada pada kebenaran, drama ini diakhirin dengan pemberontakan besar-besaran menentang gereja yang berakibat lahirnya ajaran sekulerisme, yang memisahkan agama dari ilmu pengetahuan dan memisahkan agama dari hukum dan Negara.
Sejarah lahirnya sekularisme di Barat yang demikian pahit dan melahirkan permusuhan pada agama dapat dipahami. Tetapi beberapa pertanyaan yang crucial dan perlu dijawab adalah: Apakah karena ajaran Islam sehingga ia harus turut menanggung akibatnya? Apakah karena ajaran Islam bertentangan dengan ilmu pengetahuan, sehingga keduanya perlu dipisahkan? Bukankah dalam sejarah Islam tidak pernah terjadi pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan sebagaimana yang terjadi di Barat? Bukankah ditangan para intelektual Islamlah berkembangnya ilmu pengetahuan dan akhlak secara bersama-sama, yang kemudian dipelajari dan dikembangkan oleh para sarjana di Barat (ilmu pengetahuanny saja) sehingga melahirkan bahwa agama tidak ilmiah dan tidak sesuai dengan logika.
Lebih berbahaya lagi, jika agama dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, sehingga setiap orang bebas untuk berbuat maksiat walaupun ia Muslim, tanpa seorangpun boleh mencegahnya. Ini jelas bertentangan dengan prinsip Islam yang menganjurkan amar makruf nahi mungkar. Hadis Rasulullah saw., “Ubahlah kemungkaran itu dengan tanganmu, jika tidak mampu maka dengan lisanmu dan jika tidak mampu maka dengan hatimu, tapi itu adalah selemah-lemah iman.” Sebagai seperangkat aturan dan norma, agama pun seorangpunmembutuhkan pengakuan dan institusi dari pemerintah yang menjamin pemberlakuan sanksi bagi pelanggar-pelanggarnya. Mengapa? Hal ini dilakukan demi terpeliharanya eksistensi dan orisinalitas ajarannya.

5. Superioritas Atas Bangsa Lain

Kelemahan suatu kelompok, suku, ras, atau bangsa adalah jika ia sudah merasa lebih tinggi dari bangsa yang lain, sehingga menganggap bangsa lain sebagai bangsa yang boleh direndahkan dan dieksploitasi. Superioritas Jerman dengan ras Arianya telah melahirkan rezim Nazisme Hitler dengan korban yang besar. Superioritas kulit putih Australia menimbulkan penindasan terhadap bangsa Aborigin sebagai bangsa asli benua tersebut. Superioritas kulit putih Amerika telah menjadi alat penindasan terhadap bangsa kulit hitam (Ku Klux Clan) dan Indian Amerika. Kesemua kesombongan kebangsaan dan ras itulah yang telah mengukir lembaran hitam dalam sejarah manusia dengan penjajahan yang dilakukan bangsa Barat selama ratusan tahun terhadap bangsa timur yang menimbulkan dua perang terbesar dunia dengan korban jutaan manusia.
Hal ini yang merupakan kelanjutan dari sikap superioritas Barat atas bangsa lain ini adalah politik hegemoni Barat atas bangsa lain. Dijadikannya PBB sebagai alat oleh Amerika dan Barat untuk melanggengkan kepentingannya. Dan, lembaga keuangan dunia sebagai penekan bagi negara-negara berkembang membuktikan sikap ini.





[1] Saat ini sudah berkembang ke aliran konstruktifisme pascamodernis yang berbeda dengan periode sebelumnya.
[2] Lih. Briffold, George Sarton dan Gustav Le Bon dalam Qardhawi (1995).